Minimalisme Memaknai Tradisi

You have to take the tradition, and decorate it your way.

Carrie Bradshaw

Hi!

Sebelumnya, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang sedang bersuka ria di bulan Ramadhan. Semoga lancar dan sehat selalu ya.

Saya sedang bingung nih kalau baca berita, sementara pemerintah pusat melarang mudik Lebaran namun pemerintah daerah membuka tempat pariwisata lokal.

Serba salah memang ya kalau sudah berkaitan dengan budaya dan tradisi. Apalagi tradisi keagamaan di Indonesia yang masih sangat kental.

Tepat setahun pandemi Covid 19, maka setahun pula saya dan suami juga Lukas, tidak mudik. Tahun ini pun, kami masih bertahan untuk tidak ke Jogja. Meskipun orang tua kami berdua sudah vaksin, tapi saya dan Lukas belum vaksin.

Membahas tradisi, sejak mengadopsi minimalisme, saya sendiri mengurangi dekorasi Natal dirumah. Dulu kami punya pohon Natal gede banget untuk ukuran rumah kami yang mungil. Dan kami menemukan bahwa semakin besar barang yang keluar setahun sekali (apalagi barang non essential) ternyata membutuhkan storage yang besar pula. Akhirnya sekarang kami hanya menghiasi tangga dirumah kami dengan ornamen Natal yang simple. Ornamen dan dekorasinya bisa disimpan di storage box kecil dan ketika memasangnya pun tidak makan tempat karena disematkan di pegangan anak tangga.

Terus terang, saya dan suami tidak mempunyai tradisi khusus dalam keluarga ketika hari raya keagamaan. Biasanya kami hanya makan di restoran yang semi premium atau sesuka kami saja lagi pengen makan apa. Bahkan beli sate ayam deket rumah pun gak masalah, yang penting gak masak. Hehe.. Tapi, tahun 2020 dan 2021 ini mungkin masih mengandalkan delivery food aja deh. Belum berani makan di restoran.

Bagi saya, inti dari hari raya keagamaan adalah refleksi rohani pribadi kita kepada Sang Khalik. Kita diliburkan dari aktifitas duniawi (libur kerja, libur sekolah) untuk kembali fokus pada spiritualitas kita. Perayaan dan dekorasi atau makan – makan enak, adalah pendukung kebahagiaan kita setelah berhasil menemukan diri kita yang baru melalui refleksi rohani tadi.

Seperti kutipan Carrie Bradshaw di awal post ini, tradisi masih bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari – hari baik dalam keluarga maupun masyarakat. Namun dengan adanya pandemi Covid 19 yang masih belum selesai ini, baiknya kita menyesuaikan kembali. Kerinduan akan pelukan hangat Abah Umi di desa memang tidak terbendung, namun sebagai manusia, Allah memberikan kita akal untuk bisa berpikir jernih tentang kondisi pandemi saat ini.

Mungkin inilah saatnya kita refleksi : apakah ketika kita masih tinggal dengan orang tua, kita kurang memperhatikan mereka? Kita asyik main gadget sendiri. Tidak mau diajak ngobrol sama Abah. Tidak mau bantu Umi cuci piring.

Sehingga saat kita ingin bertemu Abah Umi karena rindu, kita terhalang oleh pandemi dan harus melakukan silahturahmi melalui gadget?

Untuk teman – teman handai taulan yang terpaksa tidak bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga di kampung kelahiran, teguhkan iman dan pengharapan bahwa dengan meningkatkan kepedulian terhadap kondisi pandemi saat ini, kita diundang untuk menjadi pembawa pesan Allah yatu : Cinta Kasih pada sesama.

Semoga memberikan inspirasi yaa…

Cheers ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s