Yuk ! Berlatih Mindful Spending

Hi!

Apakah pernah merasakan seperti ini : Udah bikin budget dan belanja sesuai budget, tapi kok rasanya gak puas dan justru menderita? Jika pernah merasakan seperti itu, mungkin bisa dicoba latihan yang namanya Mindful Spending.

Mindful spending adalah sebuah gaya hidup dimana kita memahami bagaimana setiap pengeluaran atau belanja yang kita lakukan selama ini dapat mendukung tujuan, nilai dan kebutuhan hidup kita. Mindful spending itu sendiri membutuhkan latihan dan pengalaman dari pemilik budget alias diri kita sendiri.

Mungkin bisa diumpamakan kalau budget adalah otak (logika) dan mindful spending adalah hati (perasaan). Jika ada yang bisa menjembatani mereka berdua, hidup akan terasa lebih tenang dan seimbang. Mindful spending ini, jika sudah terbiasa dan memahami pola konsumsi kita, maka kita akan merasa bahwa budget itu bukan membatasi pergerakan uang kita, namun justru memberikan kebebasan dalam membelanjakannya.

Keuntungannya :

  • mindful spending membuat kita tidak melakukan belanja yang impulsif dan jelas bisa menghemat uang.
  • karena membeli dengan penuh pertimbangan, maka kita cenderung membeli barang yang kualitasnya bagus dan bisa awet digunakan sampai jangka waktu yang lama. Sehingga rumah kita jadi less clutter.

Ada beberapa cara atau tips yang bisa saya bagikan, bagaimana melatih mindful spending ini, based on my experience tentunya.

  1. Track Pengeluaran Bulanan

Setiap menjalang akhir bulan, saya akan tracking pengeluaran keluarga selama sebulan kebelakang, sebelum menyusun budget baru untuk bulan berikutnya. Dibantu dengan data harian yang saya catat di buku kas kecil, saya bisa mengetahui pola konsumsi atau belanja keluarga. Jika ada transaksi yang dilakukan online, maka saya akan download mutasi rekening dan menghitung semuanya. Dari sini saya bisa menganalisa, pos mana yang overspend dan pos mana yang justru tidak di-spend sama sekali. Tapi seringnya sih malah sisa ya hehe.. Puji Tuhan bisa dijadikan sink fund.

2. Tentukan Tujuan Gaya Hidup

Setiap orang mempunyai tujuan mengapa memilih menjalani sebuah gaya hidup tertentu. Misalnya orang yang hidup dengan less waste atau zero waste, orang – orang ini mempunyai tujuan dan value dalam hidup mereka, mungkin untuk memperbaiki lingkungan disekitarnya. Atau yang memilih menjadi vegetarian atau vegan karena alasan kesehatan. Ada juga yang memilih untuk menjalani gaya hidup yang serba gemerlap, penuh harta dan mewah.

Setelah kita tahu akan menjalani gaya hidup yang seperti apa, maka kita bisa menggunakan tujuan gaya hidup itu untuk membuat keputusan dalam membeli sesuatu, apakah betul sesuatu itu membuat kita menjadi ‘my version but better’ ? Apakah sesuatu itu memang sesuai dengan value dalam hidup kita sekarang dan akan datang?

3. Susun Daftar Belanja

Dari pengalaman saya, meskipun sudah mempunyai budget dalam belanja groceries, daftar belanja tetap diperlukan. Alasannya ya supaya tidak lupa barang apa saja yang mau dibeli dan supaya barang yang dibeli itu memang yang dibutuhkan keluarga saya.

Pernah gak sih punya pengalaman seperti ini, pergi ke ****mart mau beli minyak goreng dan kecap, lalu pas mau jalan ke kasir melewati rak snack, lalu tanpa sadar mengambil satu bungkus. Kemudian pas di depan kasir, sambil nungguin mba kasir ganti kertas di mesin EDC, ada lipbalm dengan wadah lucu dan harganya murah, tanpa sadar lagi tangan mencomot itu si lipbalm. Belanja minyak goreng dan kecap yang (seharusnya) hanya menghabiskan 50.000, tiba – tiba menjadi 100.000, gara – gara kita gak bikin daftar belanja plus ‘gangguan visual’ lainnya.

4. Pause Before Purchase

Inilah mengapa saya suka melakukan riset sebelum membeli sebuah barang atau paket kursus. Saya ingin memberikan jeda pada hati dan otak saya, supaya mereka ‘ngobrol’ dulu gitu sebelum memutuskan beli atau tidak beli.

Seminggu yang lalu saya membeli sebuah cordless vacuum cleaner yang harganya agak fantastis. Saya sudah pengen beli alat ini sejak lama, terutama sejak dirumah tidak ada asisten haha.. kan saya yang kebagian bersih – bersih rumah. Pertimbangan saya membeli alat ini adalah saya alergi debu tapi saya yang harus bersih – bersih rumah. Maka saya membutuhkan alat yang membantu saya menjaga kebersihan rumah namun juga menjaga kesehatan saya donk.

Sebelum memutuskan untuk membeli, saya meyakinkan diri saya bahwa alat ini memang akan mempermudah saya membersihkan area berdebu tanpa bersin – bersin. Saya juga membandingkan berbagai macam merk dan model, sampai akhirnya memilih yang sekarang saya pakai ini. Jeda dari keinginan untuk membeli sampai dengan pembelian itu sendiri adalah sekitar 3 bulanan. Lama juga kan pause – nya?

5. Evaluasi Apa yang Paling Penting

Membeli sebuah designer brand dari butik terkenal di daerah Jakarta Pusat mungkin akan membuat saya merasa senang saat itu saja, ketika keluar dari butik. Namun apakah akan memberikan kebahagiaan jangka panjang? Jawabannya TIDAK. Karena itu bukan tujuan dan value hidup saya.

Sebaliknya, saya mau membelanjakan uang 250.000 untuk ikut kursus berbenah dan menjalaninya selama 4 bulan, kemudian mendapatkan banyak ilmu dan teman baru, serta setelah kursus ini selesai saya jadi tahu teknik berbenah yang berkaitan dengan home safety di Indonesia. Dan tentu saja saya mendapatkan kepuasan jangka panjang bahkan ilmu ini sangat berguna untuk kehidupan saya.

Untuk mengelola pembelian yang tidak ‘terlalu’ penting, coba pikirkan kembali apa yang betul – betul penting dalam tujuan atau nilai hidup kita. Misalnya untuk dana umroh, untuk perawatan skin care di spa, atau untuk donasi anak sekolah.

Menurut saya, budgeting penting dilakukan untuk menjaga cash flow keuangan kita tetap sehat dan stabil, terutama jika kita sedang berusaha untuk mencapai tujuan keuangan tertentu, misal melunasi cicilan KPR atau sedang mengumpulkan dana darurat. Namun, kita juga bisa berlatih melakukan mindful spending supaya gaya hidup kita tetap seimbang antara kebutuhan dan keinginan.

perumpaan pendek ala saya tentang need vs want

Saya butuh kemeja putih, namun saya ingin kemeja putih Comme de Garcons.

Saya butuh liburan, tapi saya ingin liburan ke Jepang

Saya butuh sebuah mobil, namun saya ingin sedan BMW

Dengan mindful spending, diharapkan kita tetap bisa berbelanja sesuai budget dan kemampuan, serta sesuai dengan value dan tujuan hidup kita.

Jadi gimana? tertarik untuk latihan mindful spending ? Semoga memberikan inspirasi yaa..

Cheers ^^

Satu tanggapan untuk “Yuk ! Berlatih Mindful Spending

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s