10 Kesalahan Soal Keuangan Pribadi

Hi!

Pada masanya ketika saya menjadi fresh graduate yang langsung dapat pekerjaan setelah wisuda, saya hanya tahu prinsip mengelola uang : 1. tidak boleh lebih besar pasak daripada tiang ; 2. harus menabung diawal bulan, bukan diakhir.

Prinsip itu berhasil untuk beberapa tahun ketika saya berstatus single. Namun menikah dan mempunyai keluarga membuat saya lebih banyak belajar lagi tentang pengelolaan keuangan keluarga. Ternyata banyak kesalahan pengelolaan keuangan yang saya lakukan sebelumnya. Salah satu yang paling saya sesali adalah saya tidak melakukan investasi lebih dini.

Berikut adalah beberapa kesalahan dalam hal keuangan, yang mungkin kita lakukan sebagai manusia biasa yang kadang terpapar gaya hidup serba gemerlap atau mungkin dilakukan oleh orang tua kita?

  1. Tidak Membuat Budget

Bagi saya dan keluarga, budget adalah sebuah kuncian dalam membangun keuangan pribadi dan keluarga yang sehat dan menjamin kehidupan yang sejahtera. Budget membantu kita untuk mengetahui kemampuan dan kondisi keuangan pribadi, apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan? Apakah butuh tambahan pendapatan? Apakah sudah cukup untuk pensiun dini?

2. Tidak Melacak (tracking) Pengeluaran

Menyusun budget sudah sedetil mungkin dan secara neraca keuangan serta matematika sudah sempurna, namun menjadi tidak berarti jika kita tidak melakukan pelacakan terhadap pengeluaran yang kita lakukan selama periode tertentu.

Melacak pengeluaran membantu kita untuk mengetahui spending behavior, apakah sesuai dengan kemampuan, apakah sesuai dengan tujuan hidup, atau apakah sudah sesuai dengan value hidup? Kita juga bisa mengevaluasi gaya hidup kita, pola konsumsi keluarga apakah sudah mindful?

Karena pengelolaan keuangan pribadi itu bukan melulu soal angka namun juga tentang spending habits, tentang kebiasaan konsumsi. Dari evaluasi spending behavior ini, saya bisa memperbaiki di bulan depan supaya tidak melenceng dari tujuan dan value hidup.

3. Tidak Punya Tujuan Keuangan

Orang yang tidak mempunyai tujuan dalam keuangan, siklus keuangan bulanan pasti terasa cepat, cepat habis sebelum akhir bulan hehe.. Gaji sepuluh koma, tanggal sepuluh tinggal komanya.. 😛

Mempunyai tujuan keuangan sangat penting supaya kita bisa mengontrol budget dan pengeluaran setiap harinya. Supaya kita bisa melakukan konsumsi dengan bijak dan berdampak baik untuk masa depan kita sendiri juga lingkungan.

Ibarat naik bus nih, kalau gak punya tujuan mau pergi kemana, ya udah sekedar naik doang tanpa kejelasan mau sampai mana dan ngapain ditempat itu. Meaningless gitu. Buang – buang waktu, tenaga dan biaya.

Paling tidak buatlah goal jangka pendek, seperti menabung untuk membali motor baru. Menabung untuk membeli rumah. Goal yang dibuat juga harus realistis dan reachable, supaya kita tidak stress dengan target kita sendiri.

4. Tidak Membangun Dana Darurat

Terus terang ketika awal – awal punya gaji sebagai orang kantoran, saya tidak tahu konsep Dana Darurat. Tapi, saya termasuk orang yang natural saver, secara alamiah saya adalah seorang penabung. Karena saya belajar dari orang tua yang selalu mengajarkan untuk menabung. Tabungan adalah salah satu bentuk dana darurat, namun waktu itu karena saya tidak tahu harus berapa rupiah jumlah dana darurat, maka saya hanya menyisihkan sekitar 15% dari gaji saya untuk ditabungkan.

Orang yang tidak membangun dana darurat, jelas bukan orang yang peduli dengan masa depannya. Kita tidak pernah tahu akan terjadi pandemi seperti sekarang, yang perlu kita tahu adalah mempersiapkan diri sebelum terjadi sebuah musibah sehingga ketika musibah itu datang menghampiri, kita masih bisa bertahan hidup.

5. Tidak Segera Melunasi Hutang

Saya belajar dari orang tua, bahwa mereka tidak pernah berhutang selain cicilan KPR. Bahkan saya tahu persis, bapak saya membelikan motor untuk saya dibayar tunai. Maka saya dan pak suami pun berusaha untuk segera melunasi segala macam hutang dan cicilan, yaitu KPR dan Mobil. Puji Tuhan, sejak 2017 kami sudah bebas hutang.

Hidup dengan hutang, gaji habis untuk bayar cicilan dan tagihan. Siapa yang mau sih? Pergi bekerja, berangkat subuh pulang malam, demi bayar cicilan. Gak suka sama bos tapi terpaksa bekerja karena punya cicilan tas Balenciaga atau Channel. Tasnya udah keren, tapi masih punya cicilan rumah. Mau sampai kapan bekerja hanya untuk bayar cicilan dan hutang? Kita yang menentukan sendiri. Bagaimana jika ternyata kita tidak diberikan umur panjang? Siapa yang mau menanggung hutang – hutang kita?

6. Tidak Hidup Sesuai Kemampuan

Orang yang tidak hidup sesuai kemampuan diri sendiri akan terus merasa tidak puas, sehingga selalu berusaha mencapai apa yang dimiliki orang lain. Sementara mereka menjadi tidak fokus pada tujuan hidupnya sendiri.

Temennya langganan Netflix, trus kita jadi ikut-ikutan langganan bayar 150ribu sebulan, supaya gak ketinggalan serial yang lagi dibahas di kantor. Ikutan member gym, biar kelihatan ‘menjaga kesehatan’, padahal lari keliling kompleks juga sehat (dan gratis).

Hidup sesuai dengan kemampuan (uang) membuat kita jadi merasa lebih tenang dan lebih banyak bersyukur. Bahkan bisa terhindar dari berbagai masalah yang ditimbulkan karena uang. Yang penting kebutuhan hidup pokok terpenuhi , makan, tempat tinggal, transportasi (jika bekerja diluar rumah) dan pakaian. Jika mempunyai pendapatan yang bisa lebih dari sekedar mencukupi kebutuhan pokok, utamakan untuk membangun dana darurat dan melunasi hutang.

7. Tidak Tahu Kondisi Keuangan

Ternyata tidak semua orang yang punya uang itu tahu dan paham kondisi keuangan mereka. Bahkan orang dengan gaji besar pun, bisa saja tidak tahu apakah keuangan mereka sehat atau tidak.

Memahami kondisi keuangan pribadi atau keluarga akan sangat berguna untuk menentukan mau menjalani gaya hidup seperti apa dikemudian hari. Apakah perlu mencari side job? Apakah sudah cukup stabil untuk bisa memulai wirausaha? Apakah cukup aman jika terjadi pandemi lagi?

Saya dan Pak Suami meminta bantuan financial planner untuk membantu kami menyiapkan dana pendidikan dan dana pensiun, karena kami berdua sadar bahwa pengetahuan kami tentang perencanaan keuangan itu sangat minim. Menurut kami, membayar jasa financial planner diawal perencanaan keuangan tidak masalah jika memang membantu kami untuk bisa lebih percaya diri dengan kesehatan keuangan kami.

Sebaiknya, jika kita tidak tahu bagaimana kondisi keuangan kita, cobalah konsultasi dengan ahlinya. Supaya kita mendapatkan ilmu yang benar dan masuk akal ketika diimplementasikan pada kehidupan kita sendiri.

8. Tidak Mulai Investasi

Saya dan pak suami baru mulai investasi ketika bebas hutang. Jadi ya baru mulai sekitar 4 tahun yang lalu. Padahal usia kami sekarang sudah mendekati kepala 4. Tampak terlambat bukan? Ini juga yang saya sesalkan, kenapa tidak dari dulu belajar tentang investasi. Padahal investasi jelas lebih cuan dibandingkan menabung. Karena menyadari bahwa secara waktu mungkin terlambat, namun kami segera memulainya. Kami usahakan setiap insentif atau bonus yang diterima setiap tahun, segera dialokasikan untuk mengejar ketinggalan investasi ini. Terutama untuk dana pendidikan Lukas.

9. Tidak Membangun Dana Pensiun

Saya belajar dari orang tua saya yang tidak punya dana pensiun, sehingga saya fully funded untuk mereka. Alias satus saya adalah sandwich generation.

Dari sini saya tidak mau anak saya bernasib sama seperti saya. Saya tidak mau menjadi jangkar besar yang menahan Lukas untuk bisa mandiri dan menggapai cita – citanya ketika dewasa nanti. Hanya karena harus membiayai masa tua bapak ibunya.

10. Tidak Bersyukur

Berapapun pendapatan yang kita terima, selalu ucapkan ‘Syukur Puji Tuhan..’, Alhamdulillah…

Karena tanpa bersyukur, pendapatan berapapun akan terasa kurang, apalagi jika kita punya hobi ‘keeping up with the Jonesses’ hobinya membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.

Dan saya masih bersyukur bahwa dengan menjadi sandwich generation artinya saya masih diberikan waktu untuk berbakti pada orang tua, saya masih punya orang tua sepasang, dan saya masih bisa diberikan rejeki. Dari pengalama saya, cara paling mujarab untuk bersyukur adalah memberi sebanyak – banyaknya meskipun kita sedang kekurangan. Karena dampaknya luar biasa, percayalah gengs.. ^^

Jadi apa yang perlu kita lakukan untuk mencegah kesalahan dalam keuangan ini? Coba berlatih budgeting dan mindful spending. Dengan ketekunan dan kebiasaan baik yang kita bangun, maka diharapkan kita bisa memperbaiki kesalahan ini.

Semoga memberikan inspirasi yaa..

Cheers ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s