The Art of IRT Without ART

The Art of IRT Without ART

Hi!

Lama tidak menulis disini. Karena seperti judul kali ini, ya, saya sekarang mengurus rumah tangga tanpa bantuan ‘mbak’ atau asisten.

Long story short, karena mbak asisten yang terakhir ini, yang sudah bekerja hampir 3 tahun bersama kami, ternyata membawa drama, alih – alih membantu meringankan beban kerjaan rumah. Jadi, saya stop dia.

Meskipun pak suami banyak mendapatkan tawaran pekerja baru dari orang – orang sekitar rumah, namun kami tolak. Saya putuskan untuk mengerjakan rutin rumah tangga tanpa asisten.

Mengapa akhirnya saya berani mengambil keputusan untuk tidak menggunakan jasa ART? Selain faktor ‘lebih banyak dramanya, daripada damainya’, sekarang Lukas masuk Sekolah Dasar, sehingga saya punya waktu lebih banyak untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Dan ini adalah jalan ninja saya sebagai ibu, untuk memberikan contoh dan mengajak Lukas ikut mengerjakan pekerjaan rumah.

To my daughter in law.. you’re welcome 😉

Karena rumah kami kecil dan hanya ada perabotan sederhana, jadi tidak perlu banyak tenaga dan waktu unuk beberes. Selepas Lukas pergi sekolah dan bapaknya berangkat kantor, rutinitas saya kira – kira seperti ini :

  • Memasukkan baju kotor ke dalam mesin cuci, atur tombolnya dan dia akan bekerja sekitar 1 jam
  • Kemudian saya tinggal jalan pagi keliling kampung sekitar 3-4km
  • pulang sampai rumah, saya strenght training sebentar, kemudian jemurin pakaian yang sudah selesai dicuci.
  • Setelah itu saya mandi dan sarapan.
  • Lanjut menyapu dan mengepel lantai. nge-lap perabotan.
  • Lantai kinclong, saya lanjut setrika pakaian yang kemarin sudah kering, ditemani Netflix atau VIU.

Bahkan dari list rutin demikian, saya masih punya waktu untuk melakukan hobi yaitu membaca buku dan menjemput Lukas ke sekolah tepat waktu, fyi sekolahnya hanya 2,5 km dari rumah 😉

Jadi apa seninya menjadi ibu rumah tangga tanpa bantuan asisten?

1. Menikmati Hidup yang Perlahan

Ya, saya memang bangun lebih awal dari anggota keluarga lain karena harus menyiapkan sarapan dan bekal sekolah/kerja. Namun berkat meal prep, pagi hari tidak terasa terburu – buru. Sarapan dan bekal selesai tepat waktu, siap untuk diangkut ke sekolah dan kantor.

Saya justru kembali merasakan bahwa hidup perlahan inilah yang selama ini saya inginkan. Hidup yang sederhana dan penuh syukur.

2. No Multitasking

Karena pekerjaan rumah saya kerjakan sendiri, maka saya harus membuat skala prioritas alih – alih multitasking. Saya usahakan membuat sedikit daftar pekerjaan, namun dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Sebagai contoh : jika saya punya waktu 1 jam untuk menyapu dan mengepel lantai, maka saya akan fokuskan pada pekerjaan ini. Tidak sambil nonton TV atau cek handphone.

3. Anggota Keluarga Lain Ikut Partisipasi

Kami jadi membuat pembagian tugas rumah tangga. Suami saya kebagian tugas menggosok kamar mandi. Sementara Lukas hanya bertanggung jawab dengan barang – barangnya sendiri, seperti merapikan tempat tidur, meja belajar dan rak mainan.

4. Punya Waktu untuk Diri Sendiri

Jadi, karena weekdays saya sudah bertugas mengurus rumah, maka setiap sabtu saya dipersilahkan ikut kegiatan pelayanan oleh pak suami. Supaya kehidupan saya tetap balance haha.. punya teman dan komunitas untuk berkarya dan berbagi.

5. Meningkatkan Nilai Investasi

Ya, tanpa ART berarti ada pengeluaran yang dihemat. Bisa dialokasikan ke tabungan atau investasi. Cukup sederhana bukan?

Pekerjaan rumah tangga yang didelegasikan memang lebih meringankan beban rutinitas saya sebagai ibu. Namun, apabila delegasinya tidak mumpuni, sebaliknya justru menambah beban pikiran. Sekian cerita kali ini.

Semoga memberikan inspirasi yaa..

Cheers 😉

Back to Top