Sederhana Memaknai Natal

“Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian

Lukas 3 : 11

Hi!

Tidak terasa sudah berada di bulan Desember 2021, penghujung tahun yang bagi saya cukup sibuk, karena harus mengerjakan dua project besar berturut – turut dalam waktu 1,5 bulan saja.

Saya mempunyai perasaan optimis menjelang akhir tahun ini, percaya bahwa kondisi pandemi segera berakhir karena makin banyak masyarakat Indonesia yang sadar pentingnya vaksin. Namun saya juga merasa bahwa akhir tahun kadang diikuti dengan rentetan musibah bencana alam, karena perubahan iklim dan kondisi Bumi yang sudah tidak sehat.

Bulan Desember identik dengan perayaan Natal yang festive. Mungkin hampir semua mall, terutama di Jakarta, akan mendekorasi atriumnya dengan pohon terang yang bermeter-meter tingginya, lampu hias warna warni dan permainan ice skating. Which is menurut saya, tradisi ini adalah adaptasi dari Eropa dan Amerika. Ada lagi yang namanya black friday, promo diskon disemua toko, late night sale dan banyak lagi promosi untuk meningkatkan penjualan demi menghabiskan stok di akhir tahun. Dan terkadang tradisi ini yang dipahami oleh teman – teman saya yang Muslim, bahwa Natal adalah tentang pohon terang, tukar kado, pesta makan dan sebagainya.

Illustrasi kelahiran Tuhan Yesus

Sebagai seorang Katolik, saya mengimani, bahwa Masa Advent atau masa penantian kelahiran Tuhan Yesus adalah tentang pertobatan. Iman saya meyakini bahwa kelahiran Tuhan Yesus di sebuah kandang domba dan hanya dibesuk oleh gembala adalah simbol tentang kesederhanaan. Jika Yesus lahir dalam kesederhanaan, mengapa saya sebagai umat-Nya justru berpesta pora?

Kebetulan, saya lahir ditengah keluarga yang sederhana, bapak saya guru dan ibu adalah ibu rumah tangga. Kami tidak mempunyai pohon Natal dirumah. Tapi saya selalu mengingat bahwa ibu saya akan masak menu special setiap malam Natal, ketika kami pulang dari Misa di Gereja. Kadang masak soto, sop buntut, gule apapun menu makanan yang jarang kami santap setiap hari. Tentu saja ini adalah perwujudan rasa syukur kami sekeluarga karena bisa berkumpul saat Natal.

Dulu saya selalu membeli baju baru ketika Natal, namun sejak menjadi ibu yang mengadopsi minimalisme, saya tidak butuh baju baru untuk Natal. Simply karena saya ingin memberikan teladan bagi Lukas, bahwa selama masih punya baju yang bagus dan masih muat, pakailah dulu. Sesuai cuplikan ayat dari Injil Lukas di awal tulisan ini, bahwa kita selayaknya berbagi kepada yang tidak memiliki.

Sebagai seorang Katolik, Yesus adalah sosok teladan gaya hidup minimalis, lahir dan hidup sederhana dan berkecukupan. Jadi bagi saya, sudah selayaknya saya dan keluarga meneladani hidup sederhana dari Tuhan Yesus.

Semoga memberikan inspirasi yaa..

Cheers ^^

2 tanggapan untuk “Sederhana Memaknai Natal

  1. Perayaan Natal justru sangat nikmat bila bisa berkumpul bersama orang-orang terkasih, dalam hal ini orangtua dan sanak keluarga. Ada rasa hangat yang tak akan pernah bisa digantikan dengan segala pernak-pernik Natal.

    Selamat Natal mbak Maria. Salam damai sejahtera untuk kita semua. 🙏

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s